Kunjungan IRI ke MLH Muhammadiyah Bahas Penguatan Program dan Advokasi Perlindungan Hutan Tropis

Yogyakarta, 3 Desember 2025 — IRI Indonesia bertemu dengan Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pusat Muhammadiyah untuk membahas penguatan program serta memperkuat narasi-narasi advokasi perlindungan hutan tropis dan hak-hak masyarakat adat. MLH Pusat diwakili oleh Dr. Ir. Gatot Supangat, salah satu Ketua MLH yang juga merupakan anggota Advisory Council IRI Indonesia, bersama para anggota MLH lainnya yang juga akademisi dan praktisi ahli lingkungan, Prof. Prabang Setyono, Prof. Yeni Widowati, Dr. Sudarto, Mutia Husein, M. Ichwanuddin, dan Nurcholis. Dari pihak IRI Indonesia hadir fasilitator nasional Hening Parlan dan tim sekretariat.

Pertemuan menyoroti kebutuhan analisis mendalam terhadap dampak Proyek Strategis Nasional (PSN) terhadap kawasan hutan. Para peserta menilai bahwa keberadaan PSN, meliputi pembangunan infrastruktur, industri ekstraktif, dan perkebunan berskala besar telah menjadi salah satu pendorong utama deforestasi dalam beberapa tahun terakhir. Analisis ini dinilai krusial untuk memahami akar masalah serta memastikan arah program IRI menjawab kebutuhan komunitas terdampak, terutama masyarakat adat dan kelompok rentan di sekitar hutan. Dengan pendekatan berbasis data dan multidisiplin, IRI diharapkan memiliki landasan kebijakan yang kuat untuk advokasi dan kolaborasi di tingkat nasional maupun daerah.

Pertemuan juga membahas usulan pembentukan chapter baru di wilayah yang masih memiliki tutupan hutan utuh namun menghadapi tekanan meningkat, yaitu Yapen, Bintuni, Raja Ampat, dan Halmahera Utara. Keempat wilayah ini memiliki ekosistem bernilai tinggi tetapi berisiko terdampak ekspansi tambang mineral, perkebunan sawit, dan proyek-proyek pembangunan besar. Pembentukan chapter dinilai penting untuk memperkuat konservasi, mendukung komunitas lokal, dan meningkatkan edukasi publik. Prosesnya akan dilakukan melalui kriteria terstruktur dan asesmen lapangan yang melibatkan para ahli dan berkoordinasi dengan wilayah yang dikelola oleh Muhammadiyah.

Selain perluasan, pertemuan menekankan pentingnya keberlanjutan chapter yang telah berjalan. Hal ini mencakup evaluasi berkala, komunikasi dua arah yang lebih kuat, serta identifikasi kebutuhan lapangan bersama komunitas setempat. Peserta diskusi juga menilai bahwa peningkatan frekuensi kunjungan lapangan diperlukan untuk mencegah stagnasi serta memperkuat hubungan, kepercayaan, dan rasa kepemilikan komunitas lokal terhadap program IRI.

Pertemuan ini menjadi langkah penting bagi IRI Indonesia untuk memperkuat arah program dan memperluas jangkauan kerja konservasi dengan dukungan kolaboratif para ahli dan mitra strategis.

 

 

 

Pen : RA