Diskusi kemudian berfokus pada penguatan peran Advisory Council dan skema kemitraan IRI–PGI. kedua belah pihak mendorong model kerja yang bersifat kekeluargaan namun tetap memiliki mandat yang jelas, termasuk mekanisme penunjukan perwakilan secara resmi dalam periode tertentu. Pendekatan implementasi program disepakati berbasis bottom-up dengan menempatkan gereja daerah sebagai aktor utama, didukung PGI Wilayah sebagai penghubung jejaring lokal. Pendekatan ini dinilai efektif untuk memastikan keberlanjutan respons dan advokasi di tingkat komunitas.

Tiga program kolaborasi prioritas juga dibahas dalam pertemuan ini. Pertama, penguatan media dan publikasi untuk memperluas kampanye dan advokasi. Kedua, pengaktifan chapter di wilayah gereja Protestan dengan minimal tiga wilayah prioritas yang akan ditentukan berdasarkan rekomendasi dan kebutuhan lapangan. Ketiga, peningkatan kapasitas melalui pelatihan Imersi Saintifik, konferensi nasional maupun internasional, serta program pengembangan bagi pemuda dan perempuan.
Pertemuan ini menandai langkah awal penyelarasan agenda bersama, di mana kedua lembaga melihat peran gereja dan pemuka agama sebagai bagian penting dalam memperkuat upaya perlindungan hutan tropis dan pemajuan hak-hak masyarakat adat.
Daftar di sini untuk menerima pembaruan tentang pekerjaan kami
© Hak cipta Prakarsa lintas agama untuk Hutan Tropis